Facebook Pencinta Buku (Blog)

Isnin, 19 September 2011

Menyikapi Buku-Buku Menyesatkan

Penulis: Syaikh Masyhur bin Hasan Ali Salman



Kami menasehatkan kepada saudara-saudara kami untuk memiliki motto Bersama tinta sampai ke liang kubur, dan tidak berhenti dalam menuntut ilmu dengan duduk di majelis-majelis ulama atau datang langsung kepada mereka dan inilah jalan yang bermanfaat dan paling menyenangkan. Atau juga bisa dengan menekuni buku-buku yang telah diterbitkan atau ditahqiq dari warisan ulama dahulu atau sekarang.

Akan tetapi hasil keilmuan hebat yang tersebar saat ini di berbagai percetakan tidak seluruhnya mempunyai nilai yang sama, ada buku-buku yang penting ada juga yang tidak berguna dan macam ketiga adalah buku-buku yang berbahaya yang tidak mempunyai nilai. Karenanya kami berpendapapt pentingnya pembahasan yang berisi hukum-hukum fiqih berkaitan dengan buku-buku yang ditahdzir (diperingatkan) oleh para ulama.

I. Hukum Jual Beli Buku Menyesatkan.

Wajib bagi para penerbit untuk bertaqwa kepada Allah dalam memilih tema-tema buku yang bermanfaat bagi manusia, untuk membenarkan aqidah dan meluruskan ibadah mereka. Hendaklah mereka berpegang kepada kaedah: Menerbitkan buku yang bermanfaat bagi para pentelaah, bukan buku yang mereka minta. Karena kebanyakan orang umum meminta buku-buku menyesatkan yang laris di pasaran, sehingga memberikan keuntungan materai yang segera kepada penerbit. Jika manusia membutuhkan buku yang bermanfaat, kemudian mereka mencarinya maka demikian itu adalah keadaan yang bagus. Akan tetapi (penerbit) haruslah meniatkan mencari pahala dalam memilih buku tersebut, sehingga penerbit tidak hanya mendapatkan keuntungan harta benda. Barangsiapa melakukan hal tersebut maka dia mendapat pahala di sisi Allah, Insya Allah.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah pernah ditanyai tentang orang yang menyalin (menulis) Shahih Bukhari, Shahih Muslim dan Al Qur-an dengan tangannya, dengan niat untuk menulis hadits dan niat lainnya. Jika ia menyalin tersebut untuk dirinya sendiri atau untuk dijual, apakah ia mendapatkan pahala?

Maka beliau menjawab (Majmu Fatawa 18/74-75) setelah memuji Shahihain, kitab-kitab Sunan, Musnad dan Muwatha' dengan redaksi berikut: Manusia mendapat pahala dengan tulisannya tersebut, baik ia menulis untuk dirinya atau untuk dijual sebagaimana sabda Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, 'sesungguhnya Allah memasukkan tiga jenis orang ke dalam surga dikarenakan satu anak panah (untuk berjihad), pembuatnya, pelemparnya dan orang yang membantunya (untuk mengambil anak panah)'. [Hadits dhaif, lih: Takhrij Fiqhus Sirah oleh Al Albani hal 225-226. Tetapi pengambilan dalil yang dilakukan oleh Syaikhul Islam adalah benar berdasarkan sabda Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan maka dia mendapat (pahala) seperti pahala pelakunya.].

Saya (Syaikh Masyhur) katakan bahwa seperti itu (hukumnya) buku-buku yang bermanfaat (yaitu buku-buku selain mushaf dan buku hadits) sebagaimana Allah memberi pahala kepada penyusun, maka penerbitnyapun mendapat pahala juga. Akan tetapi perlu diperhatikan hal-hal berikut:

a. Haram menjual buku-buku yang berisikan syirik dan peribadahan kepada selain Allah.

Ibnul Qayyim berkata (Zaadul Maad 5/761) ketika membahas jual beli yang terlarang, Dan seperti itu pula haram menjual buku yang berisi syirik dan ibadah kepada selain Allah. Ini semua wajib disingkirkan dan dihilangkan karena menjualnya adalah jalan untuk memiliki dan mengoleksi kitab-kitab tersebut.
Menjual kitab-kitab ini tentu lebih diharamkan daripada menjual barang-barang yang lain karean bahaya menjualnya adalah sebanding dengan bahaya yang dikandung oleh buku itu sendiri.

b. Haram menjual buku-buku yang berisi khurafat dan perdukunan.

Al Wanasy-risyi mengatakan, Sebagian ulama ditanya tentang buku-buku yang berisi hal-hal yang tidak masuk akal dan sejarah yang jelas bohongnya seperti kitab tarikh 'antarah dan dalhamah dan berisi caci maki, syair, lagu dan lain-lain; apakah boleh dijual atau tidak? Maka mereka menjawab, 'Tidak boleh dijual dan dilihat'.

Syaikh Abul Hasan al Bathrani menceritakan bahwa ia hadir dalam halaqah fatwanya Ibnu Qidah, ketika beliau ditanya tentang orang yang suka mendengar cerita dari buku 'antarah, apakah boleh menjadikannya sebagai imam? Maka Ibnu Qidah menjawab, 'Tidak boleh mengangkatnya sebagai imam dan sebagai saksi. Demikian juga cerita buku Dhlaamah, karena itu merupakan kebohongan, dan orang menghalalkan dusta adalah pendusta. Dan seperti itu (hukum bagi) buku astrologi dan buku-buku mantra dengan bahasa yang tidak diketahui'. (lih: Al Mi'yar Al Mu'arab 6/70).

Adapun keimanannya adalah sah karena orang yang gugur/batal shalatnya tidak membatalkan shalat orang lain. Tetapi tidak seyogyanya menawarkan jabatan imam kecuali kepada orang yang layak. Dan orang yang seperti ini hendaknya dilarang menjadi imam.

c. Tidak boleh menjual buku yang banyak kesalahan, kecuali sesudah dijelaskan.

Ibnu Rusyd ditanya tentang orang yang membeli mushhaf Al' Qur-an atau buku yang banyak kesalahan dari segi percetakan, lalu ia ingin menjualnya, apakah ia wajib menjelaskannya? Dan jika ia menjelaskannya tentu tidak ada yang mau membelinya. Maka beliau menjawab, 'Tidak boleh ia menjualnya sehingga ia jelaskan, wabillahit taufiq'. (Fatwa Ibnu Rusyd 2/922-923, Al Mi'yar Al Mu'arab 6/203).
Maka jika menjual buku yang banyak salah dari segi tulisan dan bagian luarnya tidak boleh, maka tentu lebih terlarang jika banyak salahnya dari segi isi dan makna.

d. Haram menjual buku-buku berisi mantra, jimat-jimat taawudz dan cara-cara menghadirkan arwah dan jin.

Ibnu Baththah Al Ukbari berkata, Termasuk bid'ah adalah melihat/memandang buku berisi mantra-mantra dan mempraktekkannya, dan mengaku-aku bisa bicara dengan jin, menjadikan jin sebagai khadam dan membunuh jin. Demikian pula termasuk bid'ah memakai dan menggantung jimat-jimat dan do'a-do'a untuk minta perlindungan kepada jin. (lih: Asy Syahru wal Ibanah hal 361).

e. Haram menjual diwan-diwan syair yang berisi ejekan, dendam dan perkataan kotor.

Imam Al Qurthubi berkata dalam tafsirnya 1/337, Ibnul Qasim membenci mengambil upah sebagai balasan mengajar syair dan nahwu. Ibnu Habib berkata, Tak mengapa mengupah seseorang untuk mengajar syair, risalah dan cerita peperangan prang Arab dan dibenci syair yang berisi dendam, kata-kata jorok dan ejekan.
Berdasarkan perkataan Imam Al Qurthubi di atas, haram menjual diwan-diwan syair yang penuh dengan hal-hal yang bertentangan dengan Islam. Hal ini telah ditegaskan oleh Imam Adz Dzahabi, beliau berkata, Syair adalah ucapan sebagaimana jenis ucapan manusia yang lain, maka syair yang baik adalah baik, dan syair yang buruk adalah buruk. Berlebihan dalam masalah syair adalah mubah kecuali berlebihan dalam menghafal syair-syair, seperti syair-syair Abu Nawas, Ibnu Hajjaj dan Ibnu Faridl, maka dalam hal ini hukumnya haram. Dalam hal seperti ini Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, Sungguh perut salah satu kamu penuh berisi nanah sehingga merusak perut lebih baik daripada penuh berisi syair. (Bukhari dalam shahihnya 10/548, Muslim dan shahihnya 4/1769 dari Abu Hurairah).

Maka haram menjual buku-buku mereka kecuali kepada Ahli Ilmi dan Penuntut Ilmu untuk mentahdzir bahayanya. Allah-lah tempat memohon pertolongan. Tidak ada Rabb selain-Nya. Termasuk hal ini adalah diwan-diwan syair yang berisi hal-hal yang bertentangan dengan aqidah Islam, seperti syair Sufi.
As Sakwani berkata di dalam Lahnul Awam, hal 149 setelah menyebutkan syair-syair yang menyelisihi syari'at, Ini semua dan hal-hal yang serupa dengannya adalah haram menyebarkannya dan membiarkannya. Membakarnya adalah wajib dan tidak halal menjualnya di pasar.

f. Haram menjual buku-buku filsafat dan ilmu kalam.

Ibnu Katsir berkata dalam Al Bidayah wan Nihayah 11/69 ketika membeberkan kejadian-kejadian tahun 279H, Dalam tahun ini diumumkan tentang terlarangnya penjualan buku-buku filsafat, ilmu kalam dan debat. Itu merupakan keinginan Abul Abbas Al Mu'tadhid, penguasa Islam.

Hafidzhuddin bin Muhammad yang terkenal dengan sebutan Al Kardiry (wafat 827H) menceritakan sebuah hikayat yang bagus untuk menjelaskan nilai buku-buku ini (filsafat) di sisi para sahabat nabi. Beliau berkata, Diceritakan ketika Amr bin Al Ash menguasai kota Iskandariyah. Disana ada seorang ahli filsafat bernama Yahya yang digelari Thumathikus -yaitu ahli ilmu Nahwu- dan penduduk Iskandariyah melaknat dirinya. Ia menganut sekte Al Ya'qubiyah dalam masalah trinitas, kemudian ia meninggalkan trinitas. Maka penduduk Mesir yang beragama Nashrani mendebatnya dan menjatuhkan martabatnya di tengah-tengah masyarakat. Tatkala Iskandariyah dikuasai Amr maka ia selalu menyertai Amr dan pada suatu hari ia berkata pada Amr, Engkau telah mengetahui rahasia penduduk negeri ini, dan engkau menyegel seluruh gudang yang ada, dan engkau tidak mau mengambil manfaat darinya, padahal dalam hal ini tidak ada seorangpun yang menentangmu. Dan apa-apa yang tidak engkau manfaatkan, maka lebih baik diserahkan kepada kami saja. Maka Amr berkata, Apa yang engaku butuhkan? Yahya berkata, Buku-buku filsafat yang ada di gudang. Itu tidak mungkin kecuali dengan ijin Amirul Mukminin, Jawab Amr.

Kemudian Umar menulis jawaban kepada Amr, Adapun buku-buku yang telah kau ceritakan, jika sesuai dengan Kitabullah maka Kitabullah sudah mencukupinya, jika tidak sesuai dengan Kitabullah maka tidak diperlukan. Oleh karena itu lenyapkanlah buku-buku itu.

Maka Amr membagikan buku-buku tersebut pada perapian-perapian di Iskandariyah dan memerintahkan untuk membakar buku-buku tersebut, sehingga selesailah pemusnahan buku-buku filsafat dalam jangka waktu enam bulan.

g. Haram menjual buku-buku karya Al Hallaj, Ibnu Arabi dan tokoh-tokoh Sufi lainnya.

Al Malik Al Muayyid Ismail Abu Fida dalam Akhbar Al Basyar 4/79. Ketika tahun 744H di tahun itu kami mengkoyak-koyak dan mecuci (melunturkan tinta) Kitab Fushulul Hikam karya Muhyidin Ibnu Arabi di Madrasah Al Ush furiyah di Halb sesudah pelajaran (di depan para murid) sebagai peringatan haramnya menelaah dan memiliki kitab tersebut dan aku berkata, Kitab Fusuh ini sebenarnya tidaklah berharga aku telah membaca goresan-goresannya ternyata isinya adalah sebaliknya.

II. Hukum Menghancurkan Buku-Buku Ahli Bid'ah dan Sesat.

Di dalam Ash Shawarimul Haddad hal 68 Imam Syaukani menukil ucapan sekelompok ulama seperti Al Bulqainy, Ibnu Hajar, Muhammad bin Arafah, dan Ibnu Khaldun, berkaitan dengan buku-buku yang ditahdzir. Hukum mengenai buku-buku yang berisi aqidah yang menyesatkan dan buku-buku yang banyak beredar di tengah masyarakat seperti Al Fushulul Hikam dan Futuhatul Makiyah karya Ibnu Arabi, Al Bad karya Ibnu Sab'in, Khal'un Na'lain karya Ibnu Qasi, 'Alal Yakin karya Ibnu Barkhan dan disamakan dengan buku-buku ini kebanyakan syair-syair Ibnu Faridl dan Al Afif At Tilmisani. Demikian juga buku Syarh Ibnul Farghani terhadap qasidah At Taiyah karya Ibnul Faridh. Hukum dari buku-buku ini dan semisalnya adalah harus dilenyapkan kapan saja ditemukan dengan cara dibakar atau dilunturkan tintanya dengan air.

Imam Ibnul Qayyim mempunyai perkataan yang sangat bagus tentang keharusan membakar dan menghancurkan buku-buku ahli bid'ah dan sesat, dan bahwa orang yang melakukan hal tersebut tidak menanggung ganti rugi, beliau berkata, ... demikian juga tidak ada ganti rugi di dalam membakar dan menghancurkan buku-buku yang menyesatkan.

Al Marudzi berkata kepada Imam Ahmad, Aku meminjam buku yang banyak berisi hal-hal yang jelek, menurut pendapatmu apakah (lebih baik) aku rusakkan atau aku bakar? Imam Ahmad menjawab, Ya, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pernah melihat buku di tangan Umar yang ia salin dari Taurat dan ia terkagum-kagum dengan kecocokan Taurat dengan Al Qur-an, maka berubahlah raut muka Nabi shallallahu 'alaihi wasallam sehingga pergilah Umar ketungku lalu melemparkannya ke dalam tungku.

Maka bagaimanakah seandainya Nabi shallallahu 'alaihi wasallam melihat buku-buku yang ditulis untuk menentang Al Qur-an dan Sunnah. Sedangkan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pernah memerintahkan orang yang menulis dari beliau selain Al Qur-an hendaklah ia hapus, kemudian beliau shallallahu 'alaihi wasallam membolehkan menulis As Sunnah dan tidak ada ijin untuk selain itu.

Dan setiap buku yang berisi hal-hal yang menyelisihi sunnah tidaklah diijinkan, bahkan diijinkan untuk membakar dan menghancurkannya. Tidak ada yang lebih berbahaya bagi umat ini daripada buku-buku sesat itu. Bahkan para sahabat membakar semua mushaf yang berbeda dengan mushaf Utsman karena ditakutkan terjadi perselisihan di tengah ummat, maka bagaimanakah jika para sahabat melihat buku-buku yang telah menimbulkan perselisihan dan perpecahan di tengah-tengah ummat?

Al Khalal berkata bahwa Muhammad bin Harun mengabarkan padanya bahwa Abul Harits telah bercerita kepada mereka bahwa Abu Abdilah (Imam Ahmad) berkata, Mengarang buku telah membinasakan mereka, mereka meninggalkan hadits-hadits Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan menerima ilmu kalam.

Al Khalal berkata bahwa Muhammad bin Ahmad bin Washi Al Muqri mengatakan bahwa ia mendengar Abu Abdillah ditanyai tentang ra'yu (pendapat), maka beliau menjawab, Sesuatu yang berasal dari ra'yu tidak akan tetap, wajib atas kalian menetapi Al Qur-an, Al Hadits dan Atsar.

Di dalam riwayat Ibnu Masyisy ada seorang bertanya kepada Imam Ahmad, Bolehkah aku menulis ra'yu, maka beliau menjawab, Apakah yang akan kalian perbuat dengan ra'yu? wajib atas kalian belajar sunnah dan tetapilah hadits-hadits yang telah dikenal (keshahihannya).

Sesungguhnya buku-buku yang berisi kebohongan dan bid'ah wajib dihancurkan dan dimusnahkan. Hal ini lebih wajib daripada menghancurkan alat-alat permainan, musik serta menghancurkan bejana khamr, karena bahaya buku yang menyesatkan lebih berbahaya dari bahaya alat-alat ini. Dan tidak ada ganti rugi dalam masalah ini, sebagaimana tidak ada ganti rugi dalam hal memecahkan bejana khamr (Ibnul Qayyim di dalam At Turuq Al Hukumiyah fi Siyasah Asy Syar'iyah hal 322-325).

Di dalam kisah taubat Ka'ab bin Malik dia mengatakan, Maka aku menuju perapian dan kemudian aku bakar surat itu (yaitu surat raja Ghosan) [HR. Bukhari dan Muslim].

Ibnul Qayyim berkomentar, Di dalam kisah ini ada anjuran untuk bersegera menghancurkan hal-hal yang menimbulkan kerusakan dan bahaya bagi agama. Orang yang teguh hati tidaklah menunggu-nunggu dan mengulur-ulur hal itu. Seperti ini juga sikap yang harus diberikan kepada khamr dan buku-buku yang ditakutkan menimbulkan bahaya dan kejelekan, yaitu dengan penuh kemantapan hati segera menghancukan dan memusnahkannya. (lih Zaadul Ma'ad 3/581).

Syaikhul Islam juga telah memberikann fatwa untuk membakar beberapa kitab, lihat akhir no. 59 dari kitab Al Akhbar di dalam Al Jami' yang terdapat dibagian akhir Mushannaf Abid Razzaq 11/424 dan Mushannaf Ibnu Abi Syaibah 6/211-212 cetakan Darul Fikr, Bab: .. dan membakar kitab.

Abu Abdilah Al Hakim berkata, Ishaq, Ibnul Mubarak dan Muhammad Yahya, mereka semua memendam buku-buku yang mereka tulis, demikian diceritakan oleh Imam Adz Dzahabi di dalam Siyar 2/337 dan berkomentar, Inilah perbuatan beberapa imam yang menujukkan bahwa mereka menganggap tidak bolehnya mengambil ilmu secara wijadah (membaca sendiri) karena tulisan kadang berubah di tangan penukil dan mungkin bertambah satu huruf sehingga merubah makna. Adapu sekarang, kebohongan telah tersebar, sedikit orang yang mau belajar dien lewat mulut para guru dan juga dari buku-buku yang tidak ada kesalahannya, bahkan sebagian penukil kitab terkadang tidak bisa mengeja dengan baik.

Pada biografi Abu Kuraib Muhammad bin Al Ala Al Hamdani (wafat 248H), Muthayan berkata, Abu Kuraib berwasiat agar buku-buku karyanya dipendam, maka dilaksanakan wasiat beliau. Kemudian Adz Dzahabi di dalam Siyar 11/397 memberikan komentar: Beberapa ahli hadits telah mewasiatkan agar buku-bukunya dipendam, dibakar atau dicuci karena takut buku tersebut dipegang oleh muhaddits yang kurang agamanya, kemudian ia akan merubah-rubah dan menambahinya, kemudian hal itu dinisbatkan kepada Al Hafidz (pemilik kitab hadits). Atau di dalam kitab itu terdapat riwayat yang putus atau lemah yang tidak pernah ia ceritakan, sedangkan yang telah ia riwayatkan adalah hal-hal yang telah dipilih. Maka ia pada akhirnya membenci hasil tulisannya, dan tidak ada jalan lain kecuali harus dimusnahkan. Karena hal ini dan lainnya ia memendam buku-bukunya.

Buku-buku yang penuh dengan racun kalajengking dan ular (yang berisi kejelekan dan kemungkaran) lebih layak untuk dipendam, dimusnahakan dan dibakar.

Mungkin teori modern terhadap kebebasan berpikir yang ada di zaman ini menganggap sikap seperti ini adalah ta'ashub (ekstrim), akan tetapi itulah sikap yang benar dengan memandang kemaslahatan umat Islam. Karena umat Islam adalah sebuah jama'ah yang satu fikrahnya. Dan kewajibannya yang dibebankan Islam ke punggung umatnya tidak mungkin dilaksanakan tanpa kesatuan ini. Maka Islam tidak rela musnahnya kesatuan fikrah ini untuk membawa umat kepada kemurtadan pemikiran dan kekacauan pemikiran. Karena umat tidak akan mampu melawan kekuatan penentang di dalam bidang iptek selama keimanan mereka terhadap falsafat hidupnya masih lemah dan asas (landasan) berpikirnya belum kokoh. Sejarah menyaksikan bahwa setiap dasar (asas) berpikir umat roboh, menyebabkan filsafat asing (kufur) melelehkan umat dari dalam. Umat yang dahulunya melahirkan da'i-da'i yang menyeru menuju agama Allah dan pembawa bendera kebenaran berubah melahirkan orang-orang kafir, durhaka lagi menentang.

Sikap tegas terhadap buku-buku yang menyelisihi Al Qur-an dan Sunnah ini bukan berarti tidak mengobati khilaf (perselisihan) yang tumbuh di tengah umat yang lembut, saling memahami dan diskusi, atau berarti menghilangkan perselisihan dengan kekerasan. Bahkan sikap ini sebenarnya bermakna kerja keras agar umat tetap berada di atas jalan yang haq, berpegang teguh terhadap iman dan diennya, tanpa melarang diskusi pemikiran yang terarah dan bantahan terhadap pembahasan ilmiyah dan pemikiran dengan pembahasan yang serupa dalam bentuk bantahan ilmiah yang kokoh. Imam Ibnul Qayyim berpendapat bahwa bantahan ilmiah terhadap buku-buku tersebut tidak hanya mubah terkadang wajib atau mandub (disukai) tergantung keadaan.

Maraji: Majalah As Sunnah Edisi 12 / Th. IV / 1421-2000, Diterjemahkan oleh Aris Munandar bin S Ahmadi Lamfunji.

Sumber: Menyikapi Buku-buku Menyesatkan.

Jumaat, 16 September 2011

Syair Arab; Kenalilah Keburukan...

Oleh: Suhili bin Nain.



عَرَفْتُ الشَّرَّ لاَ لِلشَّرِّ وَلَكِنْ لِتَوَقِّيْهِ

وَمَنْ لَمْ يَعْرِفِ الْخَيْرَ مِنَ الشَّرِّ وَقَعَ فِيْهِ

Maksudnya:
Aku mengenali keburukan bukan untuk melakukannya, namun untuk menjauhinya,
Siapa yang tidak mengenal kebaikan daripada keburukan, tentu akan terjerumus kepadanya.




Ulasan Blogger Pencinta Buku:

Untuk mendapat keselamatan, kita bukan sahaja perlu melakukan kebaikan, tetapi kita juga perlu untuk menghindarkan diri daripada keburukan yang diharamkan oleh Allah s.w.t. Dan adalah sesuatu yang mustahil bagi kita untuk menghindari keburukan itu melainkan dengan ilmu. Oleh itu, wajiblah ke atas kita untuk mengenali keburukan.
Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan, bahawa Huzaifah bin Al-Yaman pernah berkata:

"Manusia bertanya kepada Rasulullah s.a.w tentang kebaikan, sedangkan aku bertanya kepada beliau tentang keburukan kerana bimbang ianya menimpaku."

Kita perlu mengenali tauhid, pada masa yang sama kita juga perlu mengenali syirik. Kita perlu mengenali sunnah, pada masa yang sama kita juga perlu mengetahui bid'ah. Kita perlu mengenali  perkara halal, pada masa yang sama kita juga perlu mengenali perkara haram. Kita perlu mengenali perintah Allah s.w.t, pada masa yang sama kita juga perlu mengenali perkara yang dilarang oleh Allah s.w.t.


Sumber syair: Offline Blog Sunniy Salafy versi 10.10 (CHM ebook),  Kumpulan Syair Penggugah Jiwa, Bahagian 7, Poin 50.

Revolusi Buku; Dahulu & Sekarang.

Oleh: Suhili bin Nain.




Kemungkinan penulisan ini sudah lewat untuk dituliskan, kerana buku telah mengalami revolusinya dalam tempoh yang lama. Anggapkan saja, penulisan pada kali ini hanyalah sekadar luahan rasa.

Buku Pada Zaman Dahulu.

Pada zaman dahulu, untuk mendapatkan sebuah buku bukanlah perkara yang mudah, buku terpaksa disalin dengan menggunakan tangan, seperti mana yang kita baca dalam kisah hidup para ulama. Ketika itu mendapatkan buku dan penulisan adalah cukup payah, jumlahnya amat terhad memandangkan semuanya bergantung kepada tulisan tangan.

Setelah itu, zaman berubah. Mesin cetak pertama pun dicipta. Daripada salinan tulisan tangan, buku boleh didapati dalam bentuk cetakan mesin. Buku dapat memperbanyakkan dengan lebih mudah.
 

Pada zaman awal, untuk menyimpan buku kita akan memerlukan ruang. Semakin banyak buku yang kita miliki, maka semakin banyak pula ruang yang diperlukan untuk menyimpan buku-buku tersebut. Bukan itu sahaja, untuk membawa buku kita juga perlu menanggung beban yang berat.

Minat Para Ulama Terhadap Buku.

Satu perkara yang dapat kita renungi. Meskipun untuk memiliki dan membawa dan membaca buku pada zaman dahulu bukanlah benda yang mudah, tetapi kita dapat melihat dalam lembaran sejarah, betapa para ulama dahulu begitu meminati buku.

Para ulama dahulu sanggup menyalin dengan susah payah untuk mendapatkan buku. Mereka sanggup memikul beban yang berat di dalam karung dan sebagainya, asalkan buku-buku mereka dapat dibawa ke mana sahaja. Mereka begitu cinta kepada buku dan ilmu yang terkandung di dalamnya. Bagi mereka buku adalah amat penting, dan disayangi sebagaimana menjaga keluarganya.

Ebook; Buku Pada Zaman Ini.

Sekarang dunia berkaitan buku dan percetakan sudah mengalami perubahan. Buku bukan sahaja terdapat dalam bentuk tulisan pada kertas, buku juga boleh di dalam bentuk digital, atau ebook.


Berbanding buku berbentuk kertas yang boleh disentuh, dibelek dan dirasainya dengan deria sentuh, ebook lebih banyak kelebihan dan kemudahannya.

Ebook dapat disalin dengan lebih mudah. Berbanding buku berbentuk kertas, ebook adalah lebih ringan berkali-kali ganda untuk dibawa ke mana sahaja, memandangkan ianya berbentuk digital sahaja. Selain itu, ebook juga tidak memerlukan ruang yang besar untuk menyimpannya. Cukup dengan hanya alat sebesar ibu jari, dengan kapasiti tertentu kita boleh menyimpan berpuluh-puluh, beratus, bahkan beribu buah buku.

Ebook boleh didapati dengan mudah, ada yang percuma dan ada yang memerlukan wang. Kebanyakan ebook bermanfaat boleh didapati dengan cuma memuat turun secara percuma daripada internet.

Perkara berkaitan buku menjadi lebih mudah. Namun sayangnya, apabila kita melihat realiti pada hari ini. Banyak daripada kita tidak mengambil kesempatan atas kemudahan ini. Walaupun kita sudah melangkah lebih jauh ke hadapan dalam bidang berkaitan buku, tetapi kita masih tidak mampu menandingi kesungguhan para ulama terdahulu dalam minat memiliki dan membaca buku.

Semoga ianya dapat menjadi renungan kita bersama. Berusahalah untuk membaca buku dimana saja kita berada. Bawalah ia di dalam beg, poket baju, atau pun dalam alat digital anda. Selamat membaca... ^_^
^

Khamis, 8 September 2011

Pesanan Buat Perhiasan Dunia dan Pelindungnya.

Oleh: Suhili bin Nain.


Wanita dan lelaki adalah dua makhluk yang diciptakan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala untuk saling melengkapi antara satu sama lain dan fitrah saling mencederung-mencederungi antara satu sama lain. Di sebalik kejayaan seorang lelaki, pasti berdirinya seorang wanita. Begitulah kata orang.

Wanita akan menjadi seindah-indah perhiasan dunia yakni wanita solehah, seandainya ia seorang yang senantiasa bertaqwa kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala; melaksanakan segala perintah-Nya dan meninggalkan segala perkara yang dilarang-Nya. Namun begitu, sekiranya wanita menjadi ingkar kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, batas halal dan haram diketepikan, perintah dan larangan tidak dihiraukan, maka jadilah wanita itu sebagai fitnah dunia. Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wassalam:

"Tidak aku tinggalkan selepasku fitnah yang lebih aku bimbangi ke atas kaum lelaki lebih daripada (fitnah) perempuan." (Hadis riwayat Muslim)

Manakala lelaki pula telah diamanahkan tanggungjawab untuk melindungi wanita daripada perkara yang tidak elok dan dimurkai Allah Subhanahu wa Ta'ala, dan dia hanya akan dapat melaksanakan tugas itu dengan sebaiknya seandainya ia menjadi hamba Allah Subhanahu wa Ta'ala yang bertaqwa dan senantiasa beramal soleh; melaksanakan perintah Allah Subhanahu wa Ta'ala dan meninggalkan segala yang dilarang-Nya. Tetapi, sekiranya sebaliknya yang berlaku. Lelaki itu menjadi toleh, ingkar perintah Penciptanya, lupa akan dirinya sebagai hamba, maka lelaki itu akan menjadi perosak wanita.

Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:

"Kaum lelaki itu adalah pemimpin dan pengawal yang bertanggungjawab terhadap kaum perempuan..." (Surah An-Nisaa': 34)

P/S: Artikel ini adalah salah satu daripada artikel-artikel dalam sebuah manuskrip tulisan saya yang bertajuk, Wahai Diriku.
V

Jumaat, 26 Ogos 2011

Dari Mata Turun ke Hati.

Oleh: Suhili bin Nain.


Apa khabar para pengunjung sekalian? Semoga anda berada dalam keadaan sihat wal afiat dan sentiasa berada dalam rahmat dan petunjuk Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Pertama sekali sebelum meneruskan penulisan lebih lanjut, marilah kita bersama-sama mengucapkan syukur dan pujian kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, "Alhamdulillahi rabbil 'alamin." kerana telah memberikan banyak limpah kurnia nikmatnya kepada kita selama ini, sama ada daripada segi rohani mahu pun jasmani. Dan sesungguhnya, sebesar-besar nikmat Allah Subhanahu wa Ta'ala itu adalah nikmat hidayah iman dan Islam.

Cinta dan Rindu Menurut Al-Qur'an dan As-Sunnah, terjemahan daripada kitab Raudhatul Muhibbin karya Al-Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah.

Pada pertemuan kali ini, penulis akan membawa satu penjelasan yang bertajuk, "Dari mata turun ke hati!". Ini adalah kesinambungan daripada artikel yang lepas, iaitu "Pesanan Buat Insan Yang Ingin Berhenti Jatuh Cinta?", yang mana dalam pertemuan yang lepas itu penulis telah menyatakan terdapat beberapa perkara yang akan mengakibatkan berkobarnya penyakit mabuk cinta di dalam jiwa manusia. Antara salah satunya adalah membebaskan pandangan, dan inilah yang akan penulis perbahaskan pada kali ini.

Hukum Memandang.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman dalam Al-Qur'an yang bermaksud:

"Katakanlah (wahai Muhammad) kepada orang-orang lelaki yang beriman supaya mereka menyekat pandangan mereka, dan memelihara kehormatan mereka. Yang demikian itu lebih suci bagi mereka; Sesungguhnya Allah amat mendalam pengetahuannya tentang apa yang mereka kerjakan. Dan Katakanlah kepada perempuan-perempuan yang beriman supaya menyekat pandangan mereka..." (Surah An-Nur: 30-31)

Menurut Al-Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, pengharaman memandang di dalam ayat ini, bukanlah menunjukkan pengharaman secara mutlak. Tetapi memandang di sini adalah diharamkan apabila ianya menjadi sarana kepada kepada perkara yang haram, dan ianya hanya dibolehkan sekiranya mempunyai kemaslahatan.

Di dalam kitab Fiqhul Manhaji 'Ala Mazhabil Imam Asy-Syafi'e, bab Munakahat, dijelaskan lelaki yang baligh, berakal, tidak dalam keadaan terpaksa, sama ada tua atau lemah serta lelaki yang hampir baligh haram melihat mana-mana anggota badan perempuan dewasa yang bukan mahram (yakni wanita yang boleh dikahwini). Maksud perempuan dewasa ialah perempuan yang boleh menaikkan nafsu syahwat walaupun belum baligh.

Lelaki itu juga tidak boleh melihat wanita tersebut walaupun muka dan tapak tangan, sekalipun pandangan itu tidak menimbulkan fitnah menurut pendapat yang sahih di dalam mazhab Syafi'e. Begitu juga sebaliknya, perempuan diharamkan melihat lelaki bukan mahramnya tanpa tujuan.

Dinyatakan juga, seorang lelaki atau perempuan bukan mahram hanya boleh melihat antara satu sama lain di dalam beberapa keadaan sahaja, iaitu:
  1. Keperluan perubatan. Melihat itu hanya sekadar kawasan yang memerlukan rawatan sahaja. Seorang doktor lelaki dibolehkan untuk merawat pesakit wanita hanya apabila keadaan mendesak/darurat dan tiada doktor wanita yang boleh mengubatinya, begitulah sebaliknya. Bagi wanita yang dirawat doktor lelaki, dia mestilah ditemani mahramnya atau suaminya, atau kehadiran wanita yang lain yang dipercayai.
  2. Ketika berjual-beli, iaitu apabila ada keperluan untuk wanita tersebut dan dia tidak dapat dikenali dengan dilihat.
  3. Untuk penyaksian, sama ada ketika menjadi saksi atau ketika memberikan keterangan kerana penyaksian tidak sempurna tanpa melihat kepada tertuduh dan pendakwa.
  4. Ketika sesi pembelajaran, iaitu belajar atau mengajar perkara yang wajib atau sunat dipelajari kerana ilmu itu berfaedah di sisi syara'.
  5. Keadaan darurat dan keperluan sekadar untuk menghilangkan kesusahan dan mendatangkan kemaslahatan. (Dinukil daripada Kitab Fekah Mazhab Syafi'e, jilid 4, halaman 774-776 dengan beberapa perubahan)

Apabila Mata Sudah Terpanah.


Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wassalam bersabda yang bermaksud:

"Aku tidak meninggalkan fitnah yang lebih aku bimbangi ke atas orang lelaki, selain daripada wanita." (Hadis riwayat Al-Bukhari, Muslim, Ahmad, At-Tirmizi, An-Nasaie dan Ibnu Majah)

Disebutkan dalam Ash-Shahih bahawa Al-Fadhl bin Abbas Radhiallahu 'anhu pernah membonceng Rasulullah Shallallahu 'alaihi wassalam pada saat perlaksanaan korban, daripada Muzdalifah hingga ke mina. Tiba-tiba ada beberapa unta yang dinaiki wanita sedang lalu, seketika itu Al-Fadhl memandang mereka. Lalu Rasulullah Shallallahu 'alaihi wassalam memalingkan kepalanya kearah lain.

Pernah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wassalam berpesan kepada Ali bin Abi Thalib Radhiallahu 'anhu yang bermaksud:

"Wahai Ali, janganlah engkau susuli pandangan dengan pandangan lagi, kerana yang pertama menjadi bahagianmu, yang yang kedua bukan lagi menjadi bahagianmu (dosa atasmu)." (Diriwayatkan Ahmad, At-Tirmizi dan Abu Daud. Syaikh Al-Albani dalam Sahih Targhib wa At-Tarhib menyatakan darjatnya, hasan lighairihi).

Berkata Al-Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah:

"Allah menjadikan mata sebagai cermin hati. Jika seseorang menahan pandangan matanya bererti dia menahan syahwatnya dan keinginan hatinya. Jika dia membebaskan pandangan matanya, bererti dia membebaskan syahwat dalam hatinya."

Beliau berkata lagi:

"Pandangan akan menyusup ke dalam hati seperti anak panah yang meluncur saat dilepaskan. Jika tidak  membunuh, tentu anak panah itu akan mencederakan. Atau pandangan itu seperti bara api yang dilemparkan ke dahan-dahan kering. Jika tidak membakar semuanya, tentu ia akan membakar sebagian diantaranya. Dikatakan dalam sebuah syair,

"Segala peristiwa berawal daripada pandangan mata,
Jilatan api bermula daripada setitik bara,
Berapa banyak pandangan mata yang membelah hati,
Laksana panah yang dilepaskan daripada tali,
Selagi manusia masih memiliki mata untuk memandang,
Dia tidak akan lepas daripada bahaya yang menghadang,
Senang dipermulaan dan ada bahaya dikemudian hari,
Tiada ucapan selamat datang dan ada bahaya saat kembali." (Dinukil daripada buku Cinta dan Rindu Menurut Al-Qur'an dan As-Sunnah, halaman 69-76, secara terpisah-pisah dengan beberapa perubahan).

Sekian perkongsian pada kali ini, semoga ianya memberikan manfaat kepada penulis dan para pengunjung sekalian.
Wallahu 'alam.

Rujukan:
  • Dr. Mustafa Al-Khin, Dr. Mustafa Al-Bugho dan Ali Asy-Syarbaji, Kitab Fekah Mazhab Syafi'e bahagian Munakahat, jilid 4, (Terjemahan daripada Fiqhul Manhaji 'Ala Mazhabil Imam Asy-Syafi'e), terbitan Pustaka Salam, cetakan Disember 2005.
  • Al-Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, Cinta dan Rindu Menurut Al-Qur'an dan As-Sunnah (Terjemahan daripada kitab Raudhatul Muhibbin), terbitan Crescent News, Cetakan 2010.

Selasa, 23 Ogos 2011

Pesanan Buat Insan Yang Ingin Berhenti Jatuh Cinta?

Oleh: Suhili bin Nain.

At-Taubah Wadziifahul Umur karya Syaikh Muhammad bin Ibrahim al-Hamd telah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia oleh Pustaka Imam Asy-Syafi'i.
Jatuh cinta. Satu perkara berbentuk perasaan yang yang menurut pandangan penulis, tiada manusia yang akan terlepas daripadanya, kerana Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menciptakan fitrah ke atas manusia perasaan cinta, sama ada ingin dicintai atau ingin mencintai.

Jatuh cinta adalah sesuatu yang tidak salah, kerana ianya perkara yang benar di sisi syara’ selagi mana usaha untuk mendapatkan yang dicintai itu selaras dengan kehendak syara’ dan tidak menyanggahinya. Tetapi, di sana ada satu penyakit yang berkaitan cinta yang diperbahaskan oleh para ulama, namanya mabuk cinta atau di dalam bahasa arabnya "Al-‘Isyq".

Mabuk cinta atau "Al-'Isyq" ini adalah suatu keadaan dimana seseorang itu mencintai sesuatu perkara dengan melampaui batas dan norma-norma yang ditetapkan agama. Kecintaan yang keterlaluan dan berlebihan..

Pada penulisan kali ini, penulis akan memperkecilkan skop "Al-‘Isyq" atau mabuk cinta ini hanya merujuk kepada hubungan lelaki dan wanita yang bukan mahram, dan halal untuk menikah.

Berkata Syaikh al-Islam Ibnu Taimiyyah mengenai penyakit ini dalam kitabnya al-Istiqamah:

Dampak negatif yang diwariskan oleh penyakit ini, seperti lemah akal, lemah ilmu pengetahuan, rusaknya agama dan akhlak, serta terbuai dan lalai terhadap hal-hal yang bermanfaat, baik bagi agama maupun dunia, lebih-lebih berlipat-lipat daripada sisi positif yang didapatkannya.” – Dinukil daripada buku Cara Bertaubat Menurut Al-Qur’an dan As-Sunnah, halaman 237 tanpa sebarang perubahan.

Penulis percaya, di antara sekian orang yang mengalami penyakit mabuk asmara, ada yang mengetahui dan sedar betapa besarnya keburukan penyakit ini. Namun begitu, lantaran lemah dengan godaan hawa nafsu, maka untuk bertaubat daripada bukanlah benda yang mudah.

Seterusnya penulis hanya menukilkan apa yang penulis pernah dicoretkan di Facebook penulis sebelum ini,  dengan beberapa perubahan. Semoga ianya akan bermanfaat sebagai pesanan bagi insan yang ingin berhenti daripada terus jatuh cinta dan tertimpa penyakit mabuk cinta yang melemaskan hati:

Bagi mereka yang ingin berhenti jatuh cinta (biasa antara lelaki dan wanita), tetapi sering kali gagal berhenti daripadanya, terkadang hati berbisik dan tertanya dalam diri, “Mengapalah aku tidak boleh melepaskan diri daripada jatuh cinta?”. Betapa susah pun diusaha untuk menjauhi cinta manusia yang terlarang itu, ternyata kesannya tetap juga melekat di dalam jiwa.

Apabila kita ingin bertaubat daripada penyakit cinta terlarang, mabuk cinta, usaha awal yang perlu kita lakukan adalah menutup jalan atau perkara yang mendorong kita daripada jatuh cinta. Antara jalan yang mendorong dan mampu mengobarkan perasaan untuk jatuh cinta  adalah membebaskan pandangan dan kebiasaan membaca buku, mendengar muzik dan menonton wayang yang bertemakan kecintaan kepada manusia, antara lelaki dan wanita .

Seandainya kita payah untuk melepaskan diri daripada mabuk cinta, perhatikanlah beberapa  perkara yang saya sebutkan di atas. Sekiranya kita tidak mampu melepaskan diri daripada beberapa  perkara tersebut, maka berhenti daripada mabuk cinta itu kebanyakannya hanya mimpi sahaja.

Untuk penjelasan lebih baik, cubalah untuk mendapatkan kitab At-Taubah Wadziifatul ‘Umur karya Syaikh Muhammad bin Ibrahim Al-Hamd…

Wallahu 'alam.

P/S: Terjemahan kitab ini boleh didapati dalam versi lain, melalui tempahan di alamat ini: Taubat Syurga Pertama Anda.

Asalnya penulisan ini sudah tersimpan lama di dalam draf blog, namun sengaja tidak diterbitkan. Dan kini  penulis rasakan merupakan masa yang cukup sesuai untuk menerbitkannya, dan setelah dilakukan beberapa perubahan. Semoga ianya bermanfaat...
^

Sabtu, 6 Ogos 2011

Hikmah Disembunyikan Waktu Ajal Manusia.

Oleh: Suhili bin Nain.


Al-Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah menyatakan di dalam kitabnya Miftah Darus Sa'adah, bahawa hikmah disembunyikan pengetahuan mengenai ajal manusia itu adalah disebabkan, apabila manusia mengetahui umurnya begitu pendek dan singkat, maka dia tidak akan dapat menikmati dan menjalani kehidupan di dunia ini dengan sebaiknya. Segala nikmat yang dirasainya, tidak akan dapat dinikmati, kerana dia merasakan hidupnya hanyalah untuk menunggu ajal kematian yang bakal menjemput.

Kitab Miftah Darus Sa'adah sudah ada versi terjemahan dalam bahasa Indonesia terbitan Akbar Media Eka Sarana. Boleh dimuat turun daripada internet.
Ada pun, seandainya manusia itu mengetahui umurnya adalah panjang, maka akan timbul pula kerosakan dimuka bumi. Apabila panjang umurnya, manusia itu akan berfikir untuk melakukan pelbagai kejahatan sementara masih ada waktu, lalu apabila hampir ajalnya, barulah ia hendak bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Kedua-dua pemikiran itu, nampaknya begitu negatif bagi kehidupan manusia, sama ada dunia atau pun akhirat. Oleh itu, memahami sikap manusia yang sedemikian rupa, maka Allah Subhanahu wa Ta'ala telah menetapkan bahawa tiada manusia yang dapat mengetahui ajalnya secara pasti. Dengan itu, manusia akan dapat menikmati kehidupan itu, dalam pada masa yang sama terus berwaspada dan berusaha sebaik mungkin dalam ketaatan.

Wallahu 'alam.

P/S: Penulisan di atas adalah olahan semula daripada perbahasan "Mengapa ada beberapa pengetahuan yang tidak diberikan pada manusia" daripada Kunci Kebahagian, muka surat 478.
^
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Catatan Popular